Mitos seputar BIM

By | 28 September 2018

Di Indonesia sudah ada beberapa perusahaan yang peduli dan menerapkan BIM untuk mengerjakan proyek dengan lebih cepat dan efisien. Ada yang mulai berhasil untuk menerapkannya namun banyak pula yang tidak berhasil karena kurang memahami bagaimana BIM bisa cocok dengan organisasi mereka.

Berikut beberapa mitos seputar BIM yang memperlambat adopsi BIM oleh organisasi perusahaan.

1. Bim hanya untuk kontraktor utama atau konsultan utama

Ini sangat jauh dari kebenaran. Sangat penting untuk semua perusahaan yang terlibat dengan proyek menunjukkan kemampuan BIM. Dalam beberpa artikel yang pernah saya tulis, yang terpenting dalam BIM adalah bagaimana data – data proyek tersebut bisa mudah untuk saling berbagi dan kolaborasi. Jika subkontraktor tidak menguasai BIM akan membuat kolaborasi tidak berjalan dengan baik dan bisa berakibat kacaunya time schedule dan ujung-ujungnya membengkaknya cost project.

2. BIM terlalu komplek dan tidak cocok untuk perusahaan saya.

Saat ini BIM memang metode yang belum sepenuhnya dengan mudah untuk diterapkan kedalam sebuah proyek. Apalagi di Indonesia yang terlambat untuk adposi BIM dibanding di Singapura dan Malaysia yang sudah mempunyai standar BIM secara nasional. Banyak diperlukan kursus – kursus dan seminar yang membahas tentang BIM. Standar BIM di sebuah negara pun mungkin tidak cocok untuk diterapkan di negara lain. Sangat mungkin standar BIM level 2 UK lebih jlimet daripada BIM level 3 negara lain.

3. BIM hanyalah gambar teknik dari 3D model

Selama ini model 3D adalah yang selalu dikaitkan dengan BIM. Banyak yang mengklaim sudah menerapkan BIM hanya karena bekerja dengan 3D model yang lebih informatif. Namun sebenarnya model 3D hanyalah bagian dari BIM. BIM adalah metode kerja yang menghubungkan semua yang berkepentingan untuk kolaborasi agar proyek berjalan dengan lebih efektif.
Sementara proses dan teknologi adalah bagian yang terpenting dari BIM, budaya dan perilaku dalam bekerja juga merupakan hal terpenting untuk memastikan organisasi bersiap untuk adpsi BIM.

4. Adopsi BIM mahal dan tidak perlu untuk perusahaan kami

Saat ini BIM menjadi agenda global dalam perusahaan konstruksi di dunia. Mau tidak mau kita harus mengikuti arus kalau tidak semakin tertinggal. Apalagi dengan adanya MEA dan kita dikelilingi oleh negara – negara yang sudah matang dalam penerapan BIM seperti Australia, Singapura dan Malaysia.
BIM mahal karena selama ini ada kesalahpahaman bahwa BIM adalah 3D model dan menggunakan Revit. Belum lagi jika menggunakan revit untuk model kita masih butuh dengan platform BIM bim360 agar bisa lebih tepat guna dalam penerapan BIM. Sangat mahal memang. Namun jika kita mengetahui bahwa ada software maupun platform lain sebagai alternatif tentunya bisa lebih murah. Karena mereka hanyalah alat dan BIM adalah metode.

 

Artikel diadopsi dari www.bsigroup.com dengan penambahan dan pengurangan seperlunya

Tinggalkan Balasan